KB 1 Artikel Populer Agama
“Inklusifisme dan Kesalehan Sosial”













Jessieca Shagan
121810018
Progam Studi Akuntansi
Universitas Ma chung
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Febuari 2019





Latar Belakang

            Insiden pengeboman tiga Gereja di Surabaya, insiden perusakan Pura di Lumajang, insiden perusakan Masjid di Tuban, ancaman bom di Klenteng Kwan Tee Koen Karawang, dan masih banyak peristiwa-peristiwa yang mencerminkan kurangnya kesadaran beragama di Indonesia. Padahal Indonesia terkenal sebagai negara yang memiliki rasa toleransi yang kuat dengan banyakya ras, budaya, suku, dan agama. Keberagaman yang nampak menonjol dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia adalah keberagaman agama. Ada enam agama yang diakui di Indonesia, yaitu agama Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Keberagaman yang seperti inilah yang menjadi daya tarik bangsa Indonesia di mata negara lain. Namun, dapat kita lihat bahwa konflik agama di Indonesia ini semakin lama semakin menjadi-jadi. Bahkan hanya karena persoalan sepele seperti perbedaan pemikiran, menganggap agamanya yang paling benar, dan lain-lain membuat isu-isu agama kerap kali meresahkan masyarakat. Tak jarang menimbulkan korban jiwa serta kematian bagi orang-orang yang tidak tahu menahu. Maka dari itu perlu lah mengembangkan sikap toleransi dalam kehidupan  bermasyarakat.
            Inklusifisme adalah pandangan bahwa seseorang menganggap agamanya itu penting, namun mau melihat cara pandang agama lain (kacamata agama lain), sehingga masyarakat memiliki pandangan yang lebih terbuka dan tidak menutup diri hanya pada ajaran agamanya.  Kesalehan sosial adalah suatu perbuatan yang memilki dampak positif berkelanjutan atau akan menimbulkan hal-hal positif yang sifatnya terus menerus. Jika tidak, maka dia hanya sebatas melakukan kebaikan saja.
            Dalam artikel ini, kita akan membahas persoalan kehidupan beragama yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia khususnya terkait dengan lunturnya inklusifisme dan kesalehan sosial. Bagaiman kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat di Indonesia, contoh-contoh konkritnya, dan pemahaman kitab suci terkait dengan inklusifisme dan kesalehan sosial yang ada dan berkembang di masyarakat Indonesia ini.






Menumbuhkembangkan Toleransi Antar Sesama Umat Beragama
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Terlepas dari itu, Indonesia mempunyai keanekaragaman dalam berbagai sisi, mulai dari kekayaan alam dan sosial budayanya. Maka dari itu, menjadi suatu hal yang maklum jika masyarakat Indonesia memiliki berbagai pandangan hidup.
Keragaman dalam memeluk agama menjadi hal yang bepengaruh dalam mempengaruhi pola pikir manusia. Dalam sila pertama Pancasila, dikatakan bahwa agama merupakan kebebasan/hak setiap manusia untuk menganutnya. Namun, dewasa ini agama kerap kali dipermasalhkan baik dalam isu politik, sosial, dan budaya. Bahkan untuk memilih pemimpin saja, agama juga menjadi acuan pertama seseorang untuk memilih pimpinannya.
Perlu kita pahami lagi bahwa Indonesia memiliki ideologi Pancasila serta semboyan Bhineka Tunggal Ika untuk selalu rukun dan menghormati perbedaan pandangan, kepercayaan, serta pendapat orang lainnya. Tidak boleh merasa bahwa dirinya lah yang paling benar, ajarannya lah yang harus dijalankan, namun lebih membuka pandangan secara lebih luas dan tidak tertutup sehingga dapat menumbuhkan rasa toleransi. Sila-sila dalam Pancasila merupakan nilai-nilai yang digunakan sebagai aturan hidup bermasyarakat. Indonesia menghormati kebebasan beragama Sikap toleransi diperlukan untuk menjaga kerukunan antar umat beragama yang menyadari bahwa keberagaman merupakan sesuatu yang unik dan spesial sehingga perlu dilestarikan oleh semua orang.
Selain itu, jika kita menjunjung tinggi toleransi dan rasa saling memahami walaupun berbeda kepercayaan, pemerintah juga dapat lebih fokus untuk mengurus negara. Perekonomian meningkat, pengangguran menurun, pembangunan infrastruktur menjadi lebih lancar dan masyraakat lebih sejahtera. Sehingga, menjadi tanggungjawab kita bersama untuk menumbuhkan rasa persatuan, kesatuan, nyaman dan saling menghargai dalam hidup bermasyarakat.
Konflik agama yang akhir-akhir ini sering muncul adalah permasalahan tentang isu-isu politik. Maraknya konflik tentang pemilu di Jakarta, mulai dari pemilihan gubernur di Jakarta sampai-sampai pemilihan presiden sekalipun. “Semua orang berhak untuk dilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak……” merupakan isi dari UU Nomor 39 Tahun 1999. Dari pasal tersebut dapat kita ketahui bahwa Indonesia menjunjung adanya keadilan dan rasa toleran tanpa membedakan suku dan agama seseorang. Semua orang berhak ikut andil dan mengambil bagian dalam pemilihan umum tersebut. Namun, apakah kenyataannya sesuai dengan yang seharusnya demikian? Lagi-lagi isu agama menjadi acuan diatas segalanya. Pemimpin haruslah seseorang yang memiliki agama mayoritas, hal inilah yang menjadi simpati dalam pemikiran masyarakat Indonesia. Persaingan ketat juga menjadi alasan antar sesama orang beragama saling menjatuhkan. Kampanye-kampanye yang mengatasnamakan agama juga marak dan berkembang di Indonesia. Lalu apakah hal ini menunjukkan sikap toleransi telah berkembang di Indonesia?.
Konflik sosial juga menjadi permasalahan terbanyak kedua yang ada di masyarakat. Pengeboman gereja, pengeboman masjid, pengeboman klenteng, vihara, dan pura menjadi hal yang cukup mengerikan dan membuat resah masyarakat. Atau percobaan pembunuhan para pemimpin agama dan umatnya menjadi hal yang menakutkan bagi masyarakat. Dengan perubahan zaman, tidak dapat dipungkiri bila terjadi perubahan sosial dalam masyarakat. Adapun bentuk konflik sosial yang berasal dari agama antara lain seperti perbedaan ajaran dan sikap mental. Mereka membela agama masing-masing untuk mengakui kebenaran agama mereka. Adanya sikap membenarkan agama masing-masing dapat menimbulkan kontrofersi dan konflik karena tidak adanya rasa toleran dan menganggap agamanya paling benar sendiri. Kemudian timbullah sikap egoisme dan menurunkan kerukunan dan sikap saling menghargai antar umat beragama. Sebagai contoh konkret adalah adanya ISIS dan kaum-kaum lainnya yang ingin menghancurkan agama lain. Umumnya semua agama akan mangajarkan kebaikan kepada pemeluk agamnya karena agama mengajarkan persaudaraan, cinta kasih, tolong menolong, dan lain-lain. Namun sikap negative masih dapat terjadi karena adanya rasa kebanggaan terhadap agama masing-masing. Maka dari itu, sikap inklusivisme perlu ada agar orang-orang tidak memiliki pemikiran yang tertutup dan memiliki pandangan yang terbuka, untuk saling menerima masukan-masukan positif.
Dalam bidang budaya, pada umumnya perbedaan suku dan ras bukanlah menjadi penghalang terciptanya kerukunan. Namun, dapat kita lihat pada umumnya orang berkulit putih dan orang berkulit hitam mendapat perlakuan yang berbeda. Dan melalui konflik pendiskriminasian akan mengawali sebuah kehancuran dalam beragama. Masalah mayoritas dan minoritas agama menjadi hal yang sangan meresahkan masyarakat. Dampak adanya mayoritas dan minoritas menimbulkan benturan golongan yang berkepentingan seperti konflik di Aceh, Jawa Barat, dan Sulawesi dimana adanya pembakaran tempat ibadah orang minoritas. Hal itu menimbulkan keyakinan bahwa kelompok  mayoritas menentukan jalannya masyarakat dan mengangap hak dan kewenangan yang dimiliki menjadi kekuasaanya sehingga menganggap agamanya yang paling berkuasa dan menjadi semena-mena. Seandainya jika sikap inklusivisme dapat diterapkan, mungkin tidak akan terjadi hal-hal mengerika semacam hal tersebut.
Dalam bidang pendidikan dan ekonomi di Indonesia menurut saya jarang terjadi maslaah agama. Bahkan di bidang ekonomi, Indonesia dulunya dikuasai oleh penduduk Tionghua. Di bidang pendidikan juga jarang terjadi konflik, misalnya ada dikriminasi agama tentang siswa yang ingin masuk sekolah swasta atau negeri. Walaupun belum tentu Si siswa tersebut akan mendapat perlakuan yang baik antar teman-teman seperantaranya. Namun, saya melihat jarang terjadi konflik di bidang pendidikan dan ekonomi di Indonesia akibat masalah agama.
Sikap inklusifisme adalah sikap yang positif karena kita mau lebih terbuka memandang keadaan sekitar. Sehingga dapat menumbuhkan semangat toleransi antar umat yang berbeda keyakinan serta menambah pengetahuan antar sesama umat beragama. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan bahwa tidak ada perbedaan dalam masyarakat, tetapi itu semua bergantung pada bagaimana caramu melihat dunia. Jangan membeda-beda kan karena seseungguhnya semua orang diciptakan untuk hidup bersama dan saling melengkapi.
“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” Matius 22:39, mungkin seringkali kita mendengar kata-kata ini. Ayat kitab suci tersebut memiliki arti bahwa kasihilah semua sesamamu manusia tanpa memandang-mandang baik agamanya, sukunya, rasnya, dll karena kita hidup secara bersama-sama dan diharapkan salinglah membantu. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” Yohanes 13:34, Tuhan menghendaki kita saling mengasihi, maka dari itu hal ini bertentangan dengan sikap inklusifisme yang hanya membanggakan agamanya sendiri.
Kesalehan sosial dapat kita ketahui dalam perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37). Dalam perumpamaan tersebut diceritakan bahwa orang Samaria tersebut membantu seseorang yang habis terampok dan kemudian dipukuli hingga sekarat. Padahal sebelumnya Imam dan orang Lewi yang lewat tidak ada yang membantunya, namun ketika orang Samaria datang, tergeraklah hatinya untuk membantu orang yang kerampokan itu. Ia mengobatinya, menaikkan orang itu ke atas keledainya, dan memberikan orang itu penginapan. Orang Samaria ini memberikan kehidupan dan dampak positig kepada orang yang kerampokan tersebut secara terus menerus. Ia mengubah keadaan, kehidupan, dan nasib orang lain menjadi lebih baik.
Persoalan-persoalan hidup beragama yang berkaitan dengan lunturnya nilai-nilai inklusifisme adalah adanya ISIS yang berkembang di msyarakat, pembakaran tempat ibadah, mengganggu umat lain ketika melakukan ibadahnya, pertengkaran-pertengkaran seperti di Ambon karena adanya perbedaan cara pandang, dan lain-lain. Kasus-kasus seperti inilah yang meresahkan warga. ISIS adalah kelompok militant ekstremis yang melakukan segala bentuk kekerasan dan merujuk pada aksi terorisme dan diskriminasi. Tujuannya adalah menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan membangun sebuah pemerintahan. Kelompok ISIS ini menganggap bahwa hanya kelompoknya lah yang seharusnya berkuasa dan semua orang di dalamnya harus mengikuti ajaran-ajaran yang berkembang dalam kelompok tersebut, bahkan sampai jika harus bunuh diri dan membunuh orang sekalipun mereka harus melakukanya. Hal ini menunujukkan sikap inklusifisme yang luntur dan benar-benar membuat takut dan meresahkan warga, serta menjadi sikap yang benar-benar tidak baik.
Persoalan kesalehan sosial adalah orang-orang belum memahami perbedaan dari kesalehan sosial dan kebaikan. Orang yang melakukan kesalehan sosial, sudah pasti orang itu berbuat baik. Namun, orang yang berbuat baik belum tentu melakukan kesalehan sosial. Seperti contoh, jika seseorang memberikan makanan kepada orang miskin, itu hanya disebut kebaikan karena pada suatu saat orang miskin tersebut akan kelaparan lagi. Hal ini tidak mengubah nasib Si orang miskin. Namun, jika kita memberikan modal atau pendidikan untuk orang miskin tersebut, maka anda berbuat kesalehan sosial, karena anda turur ikut ambil bagian dalam mengubah Si orang miskin ini.





Kesimpulan
Agama menjadi panutan, landasan, pedoman, dan keyakinan setiap orang di Indonesia dalam menjalankan perannya sebagai apapun di dalam masyarakat. Sebagai manusia, sudah layak dan sepantasnya kita melakukan apa yang diajarkan oleh masing-masing agama. Setiap agama mengajarkan kepada kita pelajaran yang sama yaitu kebaikan, persaudaraan, cinta kasih, tolong menolong, sikap saling menghargai, dan memberi kepada yang membutuhkan. Karena keanekaragaman sudah tidak dapat dihindari, maka diperlukan sikap inklusivisme dan melihat segala sesuatu menggunakan cara pandang orang lain (kacamata orang lain). Sifat terbuka ini sangat diperlukan dalam hidup beragama, apalagi Indonesia memiliki banyak aliran kepercayaan. Sementara kesalehan sosial adalah hidup berdasar norma yang berlaku. Kesalehan Sosial bukan hanya berbuat kebaikan saja, namun berperan juga untuk mengubah hidup atau nasib orang yang dibantu. Sikap inklusifisme dan kesalehan sosial perlu dipupuk secara terus menerus, sehingga menjadikan negara Indonesia sebagai negara yang terkenal akan sikap toleransinya dan membuat masyarakat menjadi rukun, betah, dan merasa nyaman berada di Indonesia.



Daftar Pustaka
Kitab Suci Agama Katholik







Comments